Senin, 10 Juni 2019

Sang Penjaga kutelusuri Kisahmu


Pagi yang indah disaat matahari sudah mulai naik disaat insan bersiap untuk berjalan menuju ketempat mengais rejekinya, disaat dimana semua umat manusia mulai merencanakan kegiatan awal dan rutinitasnya ku coba untuk berjalan keluar untuk mencari keperluan perutku
Di perjalanan sambil melirik kiri dan kanan aku melihat sesosok wanita tua yang lapuk di makan usia, ku lihat dan ku pandangi sambil berjalan, ku coba untuk menghentikan langkah ini demi hanya untuk melihat ibu itu ternyata yang aku dapatkan adalah bahagia bercampu duka  
Ibu itu selalu melihat ke diri ku dan ke tanganya sambil tersenyum , seakan ibu itu berfikir ini lah aku nak yang dulu pernah muda dan pernah seperti yang kamu rasakan sekarang ibu sudah di makan usia, kulit ibu sudah keriput wajah ibu tidak lagi cantik, 
Di saat itu ku coba untuk berfikir dan menelusuri kehidupan ku bersam ibu tercinta ku. 
Diam-diam kutelusuri kisahmu dari balik jendela waktu kutemukan engkau dalam keheningan sepertiga malam terakhir
mengajukan doa meminta embun dalam lingkar api dunia untukku, yang  tengah pulas menjilati sisa susu di tepi bibir sesekali kau nampak gusar bertasbih, memutar-mutar jemari menerka-terka bentang jalan terjal yang menghadang pagiku kala itu, engkau tak nyenyak tidur menjagaku dari raung malamku.


Kini, pada kerut wajahmu ada tangisan, ada kenakalan ada kepergianku, ada kesendirianmu dan engkau berdoa kembali dalam hening sepertiga malam, meminta Tuhan membawa langkahku pulang, membingkai hari-harimu agar terlihat indah bersamamu.


Ibu, aku tahu engkau tengah menanti seteguk senja bersamaku tapi aku sudah menjadi angin dingin dalam segelas teh pahit kau teguk sembari memejamkan mata mencari jiwaku. Ingatan usangmu berlarian di antara jejak langkah segerombol setan yang mengusungku dalam keranda menuju pekuburan manusia. Sudah sangat jauh dan dalam liang-liang itu telah berhasil menyembunyikanku, ibu…

Ibu kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Ibu kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Ibu kaulah langit yang selalu ada dimana pun aku, ibu kaulah bumi
yang terhampar luas dan lembut bagiku
melepas lelah dan nestapaku di saat aku melepaskan kepenatan dunia
ibu kaulah gunung besar dan indah yang menjaga mimpiku atas izin Rabbku
siang dan malam
Ibu kaulah mata air yang tak berhenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam.
Kaulah, ibu,
mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu.
Wahai diriku tidak kau menyadari betapa mulia seorang ibu untuk mu darinya diriku di lahirkan, darinya diriku di besarkan dan darinya diriku kau nafkakan 
Wahai diriku yang sudah gagah, tidak aku menyadari semua itu tidak akan pernah terjadi tanpa engkau wahai ibu , hari ini aku besar, aku punya pendidikan tinggi, aku punya seratus  titel dan seribu penghargaan. 
Semua itu tidak akan berarti tanpa diri mu wahai ibu tercinta ... doa kan aku serta adik-adiku agar kami tetap menghargaimu dan berbakti padamu sampai kami meninggalkan dunia ini... 
Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah.   
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.
Seorang mukmin mesti berbakti kepada kedua orangtuanya, terutama Ibunya. Karena sosok ibu menempati kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Salah seorang sahabat bahkan pernah datang kepada Rasulullah Muhammad SAW menanyakan tentang siapa yang paling berhak mendapatkan baktinya. Rasulullah pun menjawab dengan menyebut “Ibu” hingga tiga kali, baru kemudian “Ayah”. Ini menunjukkan betapa Islam begitu memuliakan sosok seorang Ibu.
Para sahabat Rasulullah SAW disebutkan sangat memuliakan ibunya. Sebut saja misalnya Abu Hurairah, yang setiap kali hendak keluar rumah selalu berpamitan kepada sang ibu dan mendoakannya. Sungguh kebiasaan mulia yang patut dicontoh.
Sahabat yang lain, Ibnu Mas’ud, seringkali diminta sang ibu untuk mengambilkan air minum dan beliau selalu melaksanakannya. Bahkan, pernah suatu ketika saat membawakan air minum yang diminta ibunya, ia mendapati ternyata ibunya telah tertidur pulas. Ibnu Mas’ud pun tidak berani membangunkannya karena memuliakan sang ibu.
Kisah lainnya, seorang sahabat bernama Usamah bin Zaid pernah membeli sebuah pohon kurma yang saat itu harganya mencapai seribu dirham. Kemudian sebatang pohon kurma itu ia potong dan diambil jamar-nya (bagian berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Hal itu ia lakukan semata-mata untuk membahagiakan sang ibu yang sangat menginginkan jamar kurma.
Ibu memang sosok yang harus dihormati dan dimuliakan. Berkat ibulah kita terlahir di dunia, manusia sehebat dan sesukses apapun pasti dilahirkan melalui rahim seorang ibu. Waktu mengandung yang kurang lebih sembilan bulan tentu bukan yang sebentar, belum lagi rasa sakit tak terkira yang harus dilalui oleh seorang ibu saat melahirkan.
Bukakanlah pintu surga
Since your birth, your mother has made you happy without expecting anything in return. Ya Allah, open the gates of Jannah for her, and make her happy.
Sejak kamu lahir, ibu selalu berusaha membuatmu bahagia tanpa mengharapkan imbalan apapun. Ya Allah, bukakanlah pintu surga untuknya dan bahagiakan dia.
Kekuatan doa ibu
When you have your Mother’s dua, you stand against the world.
Ketika doa ibu menyertaimu, kamu siap berdiri menghadapi dunia.
Selalu mengharap
No matter how old you get, you always want your mother when you don’t feel good.
Tak peduli sebera tua usiamu, kamu selalu mengharapkan sosok ibu saat merasa tidak baik.
Jaga pintu itu
Mother was your door to this Dunya, Mother will be your door to Jannah. Take care of this door.
Ibu telah menjadi pintu untukmu terlahir di dunia ini, Ibu juga yang akan menjadi pintumu menuju surga. Maka jagalah dengan baik pintu itu.

Dari sudut kota Bukittinggi SALAM DARI ANAKMU ...
Terimakasih telah membaca Sang Penjaga kutelusuri Kisahmu di blog ini